Gandeng UMKM, Kedaireka UNISNU Populerkan Batik Warna Alam Khas Jepara

0
18

MIKJEPARA.comJEPARA – Sejarah batik Jepara kini banyak dipelajari para pegiat UMKM Batik di Kabupaten Jepara. Bahkan berbagai Forum Grup Discussion (FGD) diselenggarakan, kali ini juga berbarengan dengan Seminar Batik yang digelar oleh Tim Kedaireka UNISNU di Hotel D’Season Jepara, pada Senin (15/11/2022).

Dalam seminar ini juga menghadirkan pembatik asal Jogja, Bayu Arya. Ia berbagai ilmu dan menunjukkan teknik yang sedang tren dipakai oleh para pembatik lain di nusantara. Ia menjelaskan, bahwa DNA batik Jepara sendiri berasal dari RA Kartini.

Forum Grup Discussion (FGD) diselenggarakan, kali ini berbarengan dengan Seminar Batik yang digelar oleh Tim Kedaireka UNISNU di Hotel D’Season Jepara, pada Senin (15/11/2022).

Ia menceritakan, bahwa RA Kartini belajar membatik dari ibundanya, MA Ngasirah. Hal ini pun membuat RA Kartini berani menampilkan batik karyanya ke kancah internasional kala itu. Salah satunya dalam sebuah pameran di Den Hagg Belanda pada 1898.

Tak disangka, karya Kartini mencuri perhatian pengunjung. Bahkan, Ratu Wihelmina pun membeli karya RA Kartini itu. Berbekal dengan catatan historis tersebut, berbagai pegiat batik Jepara kini mulai mengembangkan dan memberikan sentuhan inovasi lewat karyanya.

Kegiatan ini memang di inisiasi sebagai bagian pelestarian mahakarya RA Kartini yang belum banyak ditampilkan ke publik. Bukan hanya tentang motif, namun juga teknik yang diangkat sebagai ciri khas batik Jepara.

”Jepara harus punya ciri khasnya sendiri, apalagi dengan identitas kota ukir pasti banyak menemukan inspirasi dari sana,” jelas Bayu yang juga merupakan pemilik Hotwax Studio Jogja.

Sementara itu, Ketua program Kedaireka UNISNU Jati Widagdo mengatakan bahwa seminar itu bertujuan untuk membangkitkan kembali gairah batik Jepara agar lebih berkarakter.

“Jepara ada sekitar 25 lebih UMKM Batik, dan yang baru terdaftar sekitar 7 kalau kita merujuk data Pemkab. Padahal di Jepara SDM kita melimpah, namun peminat kita masih belum banyak,” ungkapnya

Didasarkan belum adanya kemandirian, mulai dari bahan baku, alat dan bahan pewarna. Hal ini justru kontra produktif dengan melimpahnya SDM di Jepara yang lahir dari sekolah-sekolah kejuruan.

“Bagaimana konsentrasi kita untuk secara mandiri membuat alat batik cap dan teknik pewarnaannya. Bisa jadi tidak harus dari tembaga, maupun pewarna sintetis, kita akan terus berkreasi dan berbagi ilmu dengan menggandeng UKM Batik Jepara,” terangnya.

Jati menyampaikan, dirinya kini tengah membuat ragam motif baru yang khas Jepara. Salah satunya motifnya merupakan ukiran khas Kabupaten Jepara.

Tugas di Kedaireka, UNISNU bisa mengawal program tersebut dengan membuat cap tembaga atau alumunium yang hampir sama kualitasnya dengan Batik Pekalongan maupun Solo. Dengan kualitas yang sama, tinggal kita menyamakan teknik SDM nya.

“Yang perlu diangkat dari batik Jepara adalah karakteristiknya. Beda Batik Bakaran dengan remetannya, Kulonprogo dengan galarannya. Solo di celup, Pekalongan lewat cap nya. Pewarnaan Alam harus menjadi ciri khas Jepara. Kita harus menuju kemandirian batik Jepara,” pungkasnya

Bahan pewarnaan batik alam ada sekitar 100an lebih, yang sedang dikembangkan antaranya dari warna daun, buah, kulit kayu, kulit buah dan bunga. Eropa sendiri sudah lama melarang penggunaan pewarna sintetis, hal ini tentunya sangat mendukung potensi ekspor batik dari Jepara.

Kedaireka UNISNU sendiri merupakan program Matching Fund dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi yang melibatkan insan perguruan tinggi dan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI) untuk bersama-sama terlibat dalam menjawab tantangan di dalam dunia industri serta membentuk ekosistem Merdeka Belajar – Kampus Merdeka.

”Warisan membatik dari RA Kartini sudah seharusnya dilanjutkan. Ada banyak inspirasi dari Jepara yang bisa menjadi karya batik. Semoga UKM Batik Jepara bisa semakin berdaya,” tutur Jati. (MIKJPR-01)

Reporter : DA/xpo
Editor : Haniev

Tinggalkan Balasan