Hadirkan Suluk Mantingan, Ikhtiar Lesbumi Nguri-nguri Budaya Jepara

0
25

MIKJEPARA.com, JEPARA – Sejumlah seniman dan budayawan hadir di Paseban Masjid Mantingan. Bertepatan di malam bulan Ramadan, Jumat (15/4/2022) PC Lesbumi NU Jepara menggelar diskusi budaya Suluk Mantingan dengan tema “Relasi Agama, Seni dan Budaya”.

Aminan Basyari koordinator Komite Sastra DKD, membuka acara dengan membacakan puisi pada Suluk Mantingan. Acara yang dihelat Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdatul Ulama Kabupaten Jepara, Jawa Tengah ini sekaligus Tahlil dan Doa Haul KH. Agus Sunyoto dan KH. Sya’roni Ahmadi. Keduanya tokoh NU yang meninggal dunia di bulan suci Ramadan tahun 2021 lalu.

Para pemateri yang hadir pada malam Suluk Mantingan. (Foto : Lesbumi Jepara)

Almarhum Romo Kyai Ngabehi Agus Sunyoto, mantan ketua Pengurus Pusat Lesbumi NU, bagi para pengurus Lesbumi dan pegiat budaya di Jepara adalah tokoh yang mendapatkan tempat tersendiri.

“Beliau sering tindak Jepara dan menjadi inspirasi teman-teman pegiat budaya,” ujar Ketua Lesbumi Jepara Ngateman.

Sedangkan K.H. Sya’roni Ahmadi Al-Hafidz merupakan ulama yang alim dalam bidang tafsir. Beliau juga dikenal oleh masyarakat sebagai ulama yang sangat kharismatik dan disegani masyarakat, dan merupakan Mustasyar PBNU asal Kudus.

Dalam acara live streaming melalui zoom dengan Ning Nisya, puteri dari almarhum KH. Agus Sunyoto itu menjelaskan, dia bersama almarhum mendatangi beberapa tempat seperti Benteng Portugis dan Masjid Mantingan.

”Jepara sudah melahirkan sosok seperti Kartini dan banyak Kyai dan ulama dari Jepara,” ujarnya

Menurut Ning Nisya. almarhum abah KH. Agus Sunyoto, berpesan agar Jepara yang memiliki identitas dan potensi luar biasa ini diharapkan agar bisa memiliki program lebih jelas. “Banyak yang bisa dikerjakan sama yang muda,” tuturnya.

Semoga ada program Lesbumi NU Jepara, bisa membuka sejarah, karena baik di Kabupaten Rembang dan Pati, kuncinya ada di Jepara, tambah Ning Nisya.

Dalam kesempatan yang sama Ngateman Ketua Lesbumi Jepara mengatakan bahwa acara Suluk Mantingan ini adalah relasi agama, seni dan budaya.

“Suluk Mantingan artinya ruang diskusi tokoh-tokoh agamawan dan seniman di Jepara,” ujar Ngateman.

“Kedepannya, agenda Suluk Mantingan, akan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat, termasuk tokoh lintas agama dan pelaku seni budaya,” tambahnya.

Salah seorang narasumber bernama Agung menyampaikan bahwa kebudayaan Jawa dan Islam bisa berdampingan menjadi sebuah kiblat kehidupan yang mulia, Rahmatan lil ‘Alamin.

“Acara malam ini Suluk Mantingan adalah sebuah benang merah, relasi antara agama dan budaya tidak perlu dipertentangkan karena sudah satu frekuensi,” terangnya.

Pada acara tersebut sejumah seniman juga hadir dan memberikan apresiasi. Ada Sutarya pegiat seni ukir Jepara, Bayu Andara, Burhan dan Aminan Basyari koordinator Komite Sastra DKD yang membacakan puisi.

Sedangkan Brodin menembangkan mantra Hong Wilaheng Sekareng Bawono Langgeng. Ki Sholeh Ronggo Warsito. dari Mlonggo memimpin doa dan menutupan acara pukul 00.20 WIB.

Ali Romdloni, penulis buku “Kesultanan Demak Bintoro” yang turut hadir menyampaikan materi berharap melalui forum Suluk Mantingan akan tercipta kurikulum keilmuan yang bersifat informal yang memiliki dasar dan data yang bisa dipertanggungjawabkan.

“Setiap orang bebas berargumen apa saja karena itu hak mereka, jadi sudah tugas kita melalui forum suluk mantingan inilah agar tercipta sebuah diskusi keilmuan yang memiliki data dan sumber sejarah yang jelas,” terang Ali Romdloni. (MIKJPR-01)

Reporter : NH/xpo
Editor : Haniev

Tinggalkan Balasan