Nyadran, Merawat Kerinduan Jelang Ramadan

0
53

MIKJEPARA.com, JEPARA – Ruwah merupakan bulan kerinduan. Bulan yang dipilih oleh sebagian masyarakat untuk kembali mengenali jati diri sebagai manusia. Bulan bagi manusia nusantara, menciptakan tradisi untuk menegaskan bahwa dirinya berbeda dengan makhluk lainnya.

Hal yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya adalah kemampuan berpikir dan mencetak sejarah. Proses menyejarah inilah yang menyebabkan manusia menghasilkan peradaban dan kebudayaan. Dengan menyejarah, manusia belajar dan mengembangkan kemampuan survival menghadapi tantangan alam secara berkesinambungan.

Makam Sultan Hadlirin Mantingan, dikunjungi beberapa peziarah menjelan bulan Ramadan. (Foto : MIK Jepara)

Kata sejarah memang berarti pohon, proses memahami sejarah yang paling dasar adalah proses mengenali pohon kehidupannya sendiri. Mengenali leluhurnya sendiri, yang diyakini memiliki segudang cerita.

Dengan mengenali leluhurnya, akan timbul spirit bahwa kehidupan kita bukanlah sebuah kehidupan yang benar-benar baru ada. Kita telah diperanakpinakkan orang tua dan para leluhur; bahwa kehidupan itu terus berkesinambungan sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu.

Inilah bulan kerinduan itu. Saat kita mengalokasikan waktu secara khusus untuk berhenti sejenak menyadari bahwa jasad manusia ada usianya, sedangkan kehidupan tak pernah terputus selamanya. Inilah bulan yang diharapkan agar kita mampu mendengarkan lagi mimpi-mimpi leluhur tentang kehidupan dan membaca kembali daftar harapan-harapan mereka yang belum sampai serta layak diteruskan.

Itulah konsep nyadran. Mengalokasikan waktu untuk kembali mengenali jalan sekaligus pohon kehidupannya. Yang nyadran di rumah maupun yang menyempatkan datang ke makam orang tua dan leluhur, sama-sama sedang menyegarkan kembali memori itu.

Sejumlah kawan, sering menganjurkan kepada saya agar berdoa saja dari rumah. Prinsip perziarahan, kata mereka, adalah mendoakan arwah leluhur dan mengambil teladan kebaikan yang telah dilakukan para leluhur untuk diteruskan.

Namun saya sendiri masih memilih hadir di hadapan ke makam orang tua dan leluhur, untuk kembali luluh menyadari sebagai telah dianakpinakkan oleh orang tua dan para leluhur.

Dari sana menyadari bahwa jalan kehidupan bukan hanya sepanjang umur, melainkan telah ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Para leluhur telah mendoakan dan mempersiapkan jalan kehidupan saya jauh sebelum saya dilahirkan.

Dengan terpekur di depan makam leluhur, diharapkan kejatidirian kembali pulih. Jati diri sebagai ciptaan setelah kesadaran kita sepenuhnya pulih kembali bahwa dari manusialah kita dihadirkan. Kesadaran bahwa pada manusia tak hanya ada jasad, tak hanya terdiri dari darah dan daging, tapi juga ada jiwa, semangat, budaya dan peradaban.

Dari situlah upaya melacak diri sebagai manusia bisa dimulai. Berharap akhirnya ziarah fisik itu akan menjadi ziarah metafisis tentang prinsip penciptaan manusia dan menghayati konsep sangkan-paran.

Akhirnya, selamat nyadran. Selamat mengalokasikan waktu, perasaan dan kesadaran bahwa kita bukan mesin. Selamat menabur bunga. Ketika Anda mengulurkan lengan menggenggam bunga lalu menaburkannya ke pusara leluhur, pada saat itulah kesadaran Anda timbul untuk menyatakan bahwa dari jasad yang terkubur di dalamnyalah itulah Anda dihadirkan.

Ketika tangan Anda terbuka untuk menabur bunga, setelah itu genggamkanlah lagi tangan ketika Anda menariknya kembali. Sembari menarik tangan tergenggam itu, tangkap dan ambillah mimpi-mimpi dan cita-cita para leluhur untuk selanjutnya bisa wujudkan.

Di situ Anda telah mengambil tongkat estafetnya. Estafet sejarah, peradaban, kebudayaan, dan cita-cita untuk menjadi manusia seutuhnya, dalam perjuangan menuju harapan menjadi insan kamil.

Cakra manggilingan itu kelak nantinya juga akan menempatkan kita pada posisi yang sama seperti leluhur kita saat ini. Pada saat itulah anak cucu kita yang akan mengambil estafet itu dari kita. Begitu seterusnya dan kita boleh berbangga karena sebagai manusia kita tidak kalah, tidak menjadi mangsa sang waktu –Sang Kala– karena mampu mengantisipasinya. (MIKJPR-01)

Reporter : And/xpo
Editor : Haniev

Tinggalkan Balasan