Tradisi Budaya Jembul Tulakan Kembali Digelar

0
5

MIKJEPARA.com, JEPARA – Setelah dua tahun tidak digelar karena pandemi Covid-19, prosesi budaya Jembul Tulakan kembali digelar dengan kirab budaya, Prosesi Budaya Jembul Tulakan Kecamatan Donorojo berlangsung di depan rumah Petinggi Desa Tulakan Budi Sutrisno, Senin (20/06/2022).

Tradisi Jembul Tulakan tak lepas dari kehidupan Ratu Kalinyamat, perempuan penguasa Jepara. Setelah Sultan Hadirin, terbunuh oleh Arya Penangsang, Ratu Kalinyamat membuat sumpah dengan bertapa wuda. Dalam hal ini, tapa wuda atau telanjang tidak dimaknai telanjang dalam arti sebenarnya. Melainkan, Sang Ratu menjauhi sifat keduniawian dan kemewahan di Istana.

Camat Donorojo Setyo Adhi Widodo mewakili Pj. Bupati Jepara saat memberikan sambutan pada acara Prosesi Budaya Jembul Tulakan yang berlangsung di depan rumah Petinggi Desa Tulakan Budi Sutrisno, Senin (20/06/2022). (Foto: Diskominfo Jepara)

”Ora pisan-pisan ingsun jengkar saka tapa ingsun, yen durung bisa nganggo kesed jambule Arya Penangsang (Tidak sekali-kali saya turun dari pertamaan, jika belum bisa membersihkan kaki dengan jambul atau rambut Arya Penangsang),” ucap Budi menirukan sumpah Ratu Kalinyamat. Tempat pertapaan Ratu Kalinyamat sendiri dipercaya terletak di Bukit Donorojo.

Dengan ucapan tersebut, diterima oleh masyarakat Tulakan bahwa kesetiaan, kecintaan, dan pengabdian sang ratu terhadap Suaminya, yang telah terbunuh oleh Arya Penangsang. Sang Ratu dengan keikhlasannya, bersedia menanggalkan gemerlapnya kehidupan istana untuk mendapatkan keadilan Yang Maha Kuasa.

Jembul ini mempunyai ciri khas berupa golek kayu atau patung yang diletakkan dipuncak gunungan. Golek ini menggambarkan seorang tokoh bernama Sayyid Usman, seorang ulama yang ikut menyertai Ratu Kalinyamat bertapa di Siti Wangi.

Dalam perkembangan selanjutnya Jembul Tulakan dijadikan sarana Sedekah Bumi yang merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas limoahan dan karuniah terhadap wilayah dan masyarakat Desa Tulakan.

Jembul Tulakan telah mendapatkan sertifikat sebagai warisan budaya tak benda dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bersama Pesta Lomban dan Obor-obor Tegalsambi.

Dalam sambutannya Camat Donorojo Setyo Adhi Widodo mewakili Pj. Bupati Jepara menyampikan, agar acara budaya seperti ini dapat dikembangkan dan dilestarikan sehingga anak cucu kita nantinya masih dapat mengenal tradisi seperti ini.

“Semua potensi budaya desa harus dikembangkan dan dilestarikan,” kata Adhi.

Sementara itu Petinggi Desa Tulakan Budi Sutrisno menambahkan, bukan hanya warga desa setempat yang hadir tetapi juga ada yang berasal dari desa lain bahkan luar kota.

“Kami ingin terus melestarikan dan mengembangkan tradisi ini hingga menjadi kekuatan ekonomi warga,” kata Budi.

Setelah dilakukan inti dari upacara Jembul Tulakan, maka sebagai penutup dilakukan resikan yaitu kegiatan membersihkan tempat yang telah dipakai untuk melakukan upacara. Aktivitas ini dilakukan oleh warga masyarakat desa Tulakan secara beramai-ramai. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk pengusiran terhadap penyakit dan kejahatan di Desa Tulakan. (DiskominfoJepara/Bayu)

Tinggalkan Balasan