Google search engine

MIKJEPARA.com, JEPARA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan kebijakan Kampus Merdeka pada tahun 2020 dengan tujuan utama untuk meningkatkan kualitas dan relevansi lulusan program sarjana.

Sebagaimana kita ketahui, saat ini perguruan tinggi dan industri di Indonesia belum dapat berjalan selaras. Pengembangan ilmu dan teknologi di perguruan tinggi masih belum berorientasi pada pemenuhan kebutuhan atau pemecahan permasalahan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) serta masyarakat.

Mahasiswa magang UNISNU Jepara saat di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Hutan Penggaron Semarang (Dok : Foto B3/Humas)

Bahkan Link and Match antara perguruan tinggi dan DUDI masih terbatas. Maka untuk menjembatani hal tersebut, Kemdikbud memberikan skema insentif dana padanan “matching fund” yang mengajak para pihak industri dan pemangku kepentingan terkait untuk bersama-sama terlibat dalam proses terbentuknya ekosistem Kampus Merdeka – Merdeka Belajar.

Bisa antara Perguruan Tinggi dengan dunia industri, ataupun multi kelembagaan. Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara yang telah bekerjasama dengan Universitas Diponegoro (UNDIP) kini tengah melaksanakan program magang tersebut dengan menggandeng PLTU Tanjung Jati Jepara.

Matching Fund dirancang untuk mengakselerasi penerapan program Merdeka Belajar–Kampus Merdeka yang melibatkan dan memberikan lebih banyak kesempatan kepada mahasiswa dan dosen meningkatkan pengetahuan praktis dan keahlian mereka di DUDI.

“Ada 7 mahasiswa UNISNU yang mengikuti program magang tersebut di bawah bimbingan UNDIP, semua nya berasal dari program studi Teknik Sipil UNISNU,” terang Prof Widayat, Ketua koordinator magang merdeka belajar UNDIP.

Program magang merdeka belajar ini mengambil tema “Peningkatan Experiential Learning, Hard Skills, Dan Soft Skills Mahasiswa”.

Hilirisasi produk yang berasal dari pendidikan terapan memiliki peluang untuk dikerjasamakan dalam program tersebut, yang mana sasaranya tertuju kepada masyarakat dengan melibatkan dunia usaha. UNDIP saat ini tengah mengelola kawasan hutan lindung di sekitaran Penggaron.

“Mahasiswa UNISNU kini tengah melakukan pendampingan pembangunan jalan akses paving FABA, area parkir, Laboratorium Biogas, MicroAlga, BioFuel, BrioBriket, BioPelet, rumput pakan ternak, dan kebun energi. Serta perencanaan masterplan seperti gedung kantor dan laboratorium, di kawasan KHDTK penggaron,” ungkap Prof Hadiyanto dari UNDIP Semarang

Saat ini UNDIP tengah menggandeng beberapa mahasiswa UNISNU dalam program Matching Fund “Integrated Smart Farming System” untuk mendukung ketahanan energi dan pangan berkelanjutan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Hutan Penggaron.

Kegiatan magang merdeka belajar mahasiswa UNISNU selama 3 bulan di UNDIP disetarakan 10 SKS dengan Mata kuliah KKN, KP, Perancangan bangunan sipil dan etika profesi. Kompetensi yang diperoleh mahasiswa UNISNU selama mengikuti program tersebut, berupa kompetensi keras (hard skills), maupun kompetensi halus (soft skills) sesuai dengan capaian pembelajaran yang diinginkan.

Sebagai informasi, pembangunan objek wisata Jateng Valley ini tengah di garap kembali. Nantinya, proyek tersebut disebut menjadi destinasi wisata terbesar se-Asia Tenggara dengan luas lahan 370 hektare. (MIKJPR-01)

Reporter : And/xpo
Editor : Haniev

Tinggalkan Balasan