Google search engine

MIKJEPARA.com,  JEPARA – Apa yang dirasakan Mbah Marjo (85) mungkin sangatlah berat, di usianya yang terbilang lanjut ini ia gigih memasarkan hasil produksinya seorang diri. Beliau menjalani semua ini dengan ikhlas dan pantang menyerah.

Dengan langkah yang sudah tak tegap lagi serta pendengaran yang terbatas, ia juga harus memikul beban yang dibawanya ke pasar. Setiap berjualan, Mbah Marjo berjalan kaki untuk menawarkan hasil produksinya yaitu “ondho” atau anak tangga yang terbuat dari bambu. Hal ini sudah beliau tekuni selama kurang lebih 40 tahun.

Mbah Marjo saat menerima kunjungan dari Pengurus Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Jepara (Foto : Zakariya)

Menurut Zakariya Anshori salah satu pengurus Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Jepara, mengungkapkan salah satu keperihatinannya adalah keluarga dari Mbah Marjo ini sangat sederhana serta memiliki anak dengan keterbatasan atau disabilitas.

Namun hal inilah yang membuat Mbah Marjo bersemangat untuk keluarganya, mencari nafkah dengan berbekal keahlian membuat “ondho”. Tiga bulan sekali Mbah Marjo membeli bambu sebagai bahan baku pembuatan “ondho”, dari pekarangan tetangga di sekitaran Desa Dongos Kedung dan Desa Ngeling Pecangaan.

Dengan rumah yang sederhana berdinding tripleks dan “gedheg” itu, dihuni oleh 2 kepala keluarga (KK) yang tak lain keluarga Mbah Marjo dan keponakannya sendiri. Sehingga total ada 6 orang dalam rumah yang masih berlantai tanah dan belum ada sanitasi yang memadai.

Melalui informasi dari rekannya Zulikhan yang juga penyandang disabilitas, tim PPDI berkesempatan menyambangi Mbah Marjo beserta keluarganya di Desa Dongos RT 4 RW 1 Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara. Beliau ditemani istrinya Madinah (65 tahun) serta putrinya Nor Ika (37) saat sedang mengerjakan anyaman dari bambu untuk benih padi atau biasa disebut “tangsul”.

Mbah Marjo agak sulit diajak berbincang dan berkomunikasi saat tim PPDI berbicang, selama ini ia menerima bantuan PKH Lansia untuk modal usahanya. Bermodal dari bantuan tersebut, beliau bisa tetap bekerja dan memasarkan hasilnya dengan harga yang tergolong murah yakni Rp. 30.000 – 40.000,- per unitnya.

“Saya berangkat dari rumah jam 6 pagi dan biasanya pulang jam 3 sore, ” kata Mbah Marjo, Senin (23/4). Dengan merebaknya wabah Covid-19, pendapatan Mbah Marjo dan Bu Madinah semakin tak menentu. biasanya ia berjualan hingga daerah Pasar Pecangaan atau Pasar Ngabul. Perjalanan dari rumah sampai kembali lagi ke kediamannya itu biasa ditempuh kurang lebih selama 7 jam

Mbah Marjo mengaku bahwa pekerjaan dilakoni untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penghasilan kotor dari usahanya berkisar Rp 70 ribu per hari. Pendapatan itu tentunya masih harus dikurangi modal yang disimpan untuk berjualan besok harinya. Alhasil untung yang didapatkannya tak seberapa. (MIKJPR-01)

Reporter : Zakariya
Editor : Haniev

Tinggalkan Balasan