Tradisi Larungan Kepala Kerbau Saat Pandemi Covid-19

0
178

MIKJEPARA.comJEPARA – Di tengah penerapan jaga jarak fisik untuk mencegah penyebaran virus korona jenis baru (Covid-19), tradisi sedekah laut di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kelurahan Ujungbatu, Kecamatan Jepara tetap digelar, Minggu (31/5/2020).

Dengan suasana yang lebih sederhana, pelarungan kepala kerbau hanya diikuti puluhan orang saja. Padahal, biasanya ribuan nelayan turut serta memeriahkan pekan Syawalan ini.

Peserta prosesi larungan kepala kerbau, sesaat sebelum diturunkan ke lautan lepas (Dok : AP)

Tak seperti biasa, prosesi sedekah laut yang digelar sepekan setelah Idulfitri hanya diikuti sekitar belasan peserta inti. Di antaranya Lurah Ujungbatu Anjar Jambore Widodo beserta perangkat kelurahan.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara Sudiyatno, aparat keamanan, tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat, serta anak buah kapal (ABK). Tampak seluruh peserta juga tetap mengenakan masker.

Tetap diselenggarakannya sedekah laut, dikemukakan Lurah Ujungbatu Anjar Jambore Widodo, adalah atas kesepakatan bersama para tokoh. Dengan catatan tetap memperhatikan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Demikian disampaikannya sesaat usai turun dari kapal motor Mulyo Utomo. “Kami menyerap dari tokoh agama, tokoh masyarakat, dan teman-teman perwakilan nelayan menyadari dengan kondisi seperti ini karena Covid-19. Aturan-aturan protokol kesehatan mereka juga paham,” kata dia.

Foto prosesi larungan kepala kerbau, diambil dari perahu RIB Basarnas (Jepara Rescue)

Pada tahun ini, untuk rangkaian larungan dimulai pada Sabtu, 30 Mei 2020. Diawali pagi hari dengan penyembelihan kerbau di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Kelurahan Jobokuto, Kecamatan Jepara. Sore hari, Daging kerbau kemudian dibagikan kepada warga di 16 wilayah RT di Kelurahan Ujungbatu.

Selanjutnya ziarah ke Makam Mbah Ronggo Mulyo. Lalu, tahlilan dan doa di TPI Ujungbatu, pada malam harinya. “Kendati sempat ada persoalan terkait penyelenggaraan wayang kulit, tapi Alhamdulillah ada solusi. Secara seremonial dilaksanakan berdurasi 30 menit, tutur mantan pemain Persijap, yang sekaligus salah satu legenda tim Laskar Kalinyamat.

Sementara untuk pengamanan sendiri, selain personel TNI dan Polri, ada juga 20 warga setempat yang ikut berjaga. Mulai dari akses jalan masuk, hingga lokasi pemberangkatan dan kepulangan kapal pembawa sesajen, di TPI Ujungbatu.

Dijelasakan Ketua HNSI Jepara Sudiyatno, sedekah laut merupakan ritual nelayan yang sudah dilakukan turun-temurun. Dengan harapan mendapatkan tangkapan ikan melimpah. Untuk pelaksaannya, pada hari ketujuh pasca-Lebaran. “Walaupun saat ini pandemi Covid-19, tapi karena ini tradisi kenelayanan, maka larung sesajen itu perlu dilaksanakan. Hanya memang tidak seperti tahun-tahun yang lalu,” ujar dia.

Untuk mengantisipasi nelayan dan masyarakat di luar peserta inti yang nekat datang. Prosesi larungan di mulai lebih awal. Yakni maju 10 menit dari agenda semula, pukul 05.30.

Bersamaan dengan prosesi sederkah bumi, Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 juga turut memberikan imbauan. Dengan berkeliling ke panjuru Jepara, mereka meminta masyarakat agar tetap di rumah. Tidak bergerombol di tepi jalan, hingga selalu memakai masker dan sering cuci tangan. (MIKJPR-01)

Reporter : A. Priyantomo/Diskominfo
Editor : Haniev

Tinggalkan Balasan