Google search engine

MIKJEPARA.com, JEPARA – Ribuan masyarakat sejak pagi sudah memadati Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujungbatu untuk mengikuti prosesi larungan kepala kerbau ke tengah lautan.

Tradisi lomban yang sudah berjalan turun temurun ini tetap menarik perhatian warga Jepara dan sekitarnya. Bahkan, nampak ratusan kapal ikut mengiringi sesaji yang akan dilarung sejak dari dermaga TPI Ujungbatu hingga ke tengah perairan sekitar Pulau Panjang.

Sejumlah warga turut serta dalam prosesi larungan kepala kerbau menggunakan perahu nelayan (Foto : MIK Jepara)

Penjabat (Pj.) Bupati Jepara, Edy Supriyanta mengungkapkan tradisi ini menjadi ciri khas masyarakat Jepara dan menjadi warisan budaya yang sudah dilaksanakan secara turun-temurun. Prosesi ini, dimaknai sebagai wujud rasa syukur masyarakat khususnya nelayan kepada Allah SWT.

“Atas limpahan rezeki dari lautan sebagai sumber mata pencaharian masyarakat Jepara. Dan semoga kita semua senantiasa diberikan keselamatan dan keberkahan,” ucap Edy dalam sambutan pembukaan Pesta Lomban 2024.

Ia menceritakan jika tradisi larungan ini konon bermula dari kisah penyelamatan dua pejabat kadipaten Jepara yang berlayar ke Karimunjawa pada tahun 1855. Namun perahu mereka terombang-ambing karena badai.

Beruntung Ki Ronggo Mulyo dan Cik Lanang mengetahui peristiwa tersebut dan keduanya segera memberikan pertolongan. Maka sebagai momen, lahirlah tradisi tersebut dirangkai dalam pesta syawalan yang identik pula dengan kupat lepet.

Setelah melarung sesaji kepala kerbau ke tengah laut, biasanya rombongan Forkopimda dan masyarakat berbaur bersama menikmati sajian kupat lepet.

Namun kali ini terasa berbeda, mengingat event tahunan yang digelar rutin ini hadir tanpa adanya Festival “kupat lepet”. Dibanding tahun-tahun sebelumnya, pesta lomban selalu meriah dan diikuti wisatawan lokal dalam kota dan luar Jepara serta dinantikan kemeriahannya.

Iwan, salah satu warga Jepara yang berkunjung ke Pantai Kartini mengatakan, setiap tahunnya, pesta lomban selalu digelar tepat di hari lebaran ketupat atau H+7 dengan melarung kepala kerbau di laut. 

Menurutnya, acara larungan kepala kerbau inilah yang menyedot perhatian masyarakat. Bagi masyarakat yang tak bisa ikut melarung, biasanya memilih ikut melihat festival kupat atau ketupat dan lepet.

”Biasanya, disiapkan gunungan kupat lepet di Pantai Kartini untuk kemudian diperebutkan masyarakat. Rebutan kupat lepet inilah yang ditunggu-tunggu wisatawan. Tapi kok tahun ini tidak ada,” katanya

Ia pun mengaku agak kecewa dengan hal tersebut. Apalagi, lomban identik dengan kupat lepet.

Sama halnya dengan wisatawan lainnya, ada yang rela berangkat pagi bersama anak istrinya. Untuk melihat rebutan gunungan kupat lepet. Keseruan rebutan itulah yang membuatnya tertarik untuk datang ke Pantai Kartini.

Sebelumnya, Pemkab Jepara memang tidak mengadakan festival kupat lepet. Alasan utamanya yakni ketiadaan anggaran. (MIKJPR-01)

Reporter : And/Xpo
Editor : Haniev

Tinggalkan Balasan