Google search engine

MIKJEPARA.comJEPARA – Nisfu Sya’ban adalah peringatan pada tanggal 15 bulan kedelapan (sya’ban) dari kalender Islam. Hari ini juga dikenal sebagai Laylatul Bara’ah atau Laylatun Nisfe min Sya’ban di dunia Arab dan sebagai Shab-e-barat di Afghanistan, Bangladesh, Pakistan, Iran dan India.

Nama-nama ini diterjemahkan menjadi “malam pengampunan dosa”, “malam berdoa” dan “malam pembebasan”, dan seringkali diperingati dengan berjaga sepanjang malam untuk beribadah. Di beberapa daerah, perayaan Nisfu Sya’ban biasanya secara turun temurun sekaligus dijadikan momentum untuk mengenang leluhur.

Festival Baratan yang digelar pada Malam Nisfu Sya’ban di Kalinyamatan Jepara.

Seperti halnya di Kota Ukir Jepara, selain bentuk ungkapan rasa syukur umat Islam kepada ‘Sang Khalik” atas hari penuh berkah atau hari pengampunan dosa.

Masyarakat juga sering kali menggelar festival Baratan yang menampilkan Ratu Kalinyamat, salah satu tokoh pahlawan nasional yang baru saja dinobatkan oleh Presiden Jokowi.

Momentum itu dimanfaatkan juga oleh para perajin lampion untuk mengais rejeki dan turut meramaikan malam tersebut. Biasanya, pada malam Nisyfu Sya’ban anak-anak di desa akan berkeliling membawa lampion berkeliling di jalan-jalan kampung. Lampion ini dijual disepanjang jalan, kurang lengkap rasanya jika tidak ada berbagai bentuk lampion beraneka bentuk menghiasi jalanan.

Selain itu, ada juga sego (red:Nasi) puli yang diyakini masyarakat sebagai peninggalan dari Sunan Kalijaga untuk menyatukan umat pada saat itu. Seperti layaknya kuliner musiman, banyak ditemui sebagai jajan khas saat baratan.

Cerita yang berkembang di Jepara, kala itu Sunan Kalijaga ingin mempersatukan umat Islam dan non muslim dengan momentum Nisfu Sya’ban.

Saat itu seluruh warga yang hidup berdampingan dirangkul untuk beramai-ramai memasak “sego puli” atau “gendar” yang puncaknya dinikmati bersama-sama.

Sebagai bagian dari Walisongo, Sunan Kalijaga saat syiar agama Islam selalu mengajarkan toleransi antar umat beragama dalam kehidupan.

Pada umumnya, kuliner ini terbuat dari adonan nasi yang diberi bumbu rempah dan penambah rasa.

Sebelum menyantap nasi puli, warga biasaya berkumpul di suatu tempat untuk melangsungkan doa bersama. Bisa di Masjid, Mushola, Langgar, Pondok hingga Balaidesa.
 
Ini merupakan momem bersama untuk berdoa demi kesejahteraan dan kerukunan warga. Apa lagi pasca gelaran Pilpres, kerukunan warga harus tetap dijaga setelah kemarin saling berbeda pilihan.
 
Tradisi yang menjadi peninggalan leluhur harapannya tetap bisa dilestarikan. (MIKJPR-01)

Reporter : AND/SW
Editor : Haniev

Tinggalkan Balasan