Begini Filosofi Pembuatan Perahu Sesaji Kepala Kerbau Saat Larungan Pesta Lomban

MIKJEPARA.com, JEPARA – Pesta lomban merupakan acara puncak dari pekan syawalan masyarakat Jepara. Kegiatan ini diselenggarakan pada 8 Syawal atau satu minggu setelah Hari Raya Idulfitri. Berbagai serangkaian acara bakal digelar, salah satunya adalah larungan kepala kerbau ke tengah lautan.

Pesta lomban juga sering disebut dengan Bodo Kupat lantaran kupat lepet selalu menjadi hidangan yang hadir di acara ini. Biasanya, kupat lepet juga disandingkan dengan opor dan sambel goreng sebagai kuliner khas saat lebaran.

Miniatur kapal yang dipersiapkan panitia saat membawa larungan sesaji kepala kerbau saat pesta Lomban esok. (Foto : MIK Jepara)

Hal menarik lainnya saat pesta lomban, adalah adanya miniatur perahu sesaji yang sudah disiapkan nelayan untuk membawa kepala kerbau dan segala “ubo rampe”. Tentunya ini bukan sembarang perahu, butuh waktu dan tenaga untuk menyiapkan “miniatur perahu-perahuan” tersebut dengan baik dan penuh filosofi.

Miniatur kapal tempat sesaji tersebut mulai disiapkan sejak sebulan terakhir. Ternyata ada makna dan filosofi yang terkandung dalam proses pembuatannya.

Baca Juga : Viral Karyawati PT. Samwon Pesta Miras, Polres Jepara Serahkan Kebijakan ke Dinas Terkait

Saat melihat ke lokasi pembuatannya di Ujungbatu, pada Senin (24/4/2023) miniatur kapal sudah hampir jadi. Pembuat kapal pun tengah membersihkannya, dan mempersiapkan sentuhan akhirnya.

Pembuat miniatur kapal sesaji, Agus Mardika (49) mengatakan pembuatan miniatur tempat sesaji dikerjakan sejak akhir ramadan lalu. Miniatur dibuat dengan ukuran panjang 5 meter dan lebar 1 meter.

“Sejak ramadan kami sudah mulai merangkainya, beberapa bahan utamanya ada kain putih, bambu apus, sama batang pisang raja, itu wajib. Untuk yang lain hanya pelengkap yang penting tiga unsur itu harus ada di perahu,” kata Agus.

Menurutnya, sejak puluhan tahun membuatnya ada tiga bahan pokok yang wajib disediakan untuk miniatur kapal. Tiga bahan ini antaranya kain putih, bambu apus, dan batang pisang raja.

“Saya membuat miniatur kapal ini kurang lebih sudah 20 tahun, memang syarat-syarat tersebut sudah dipesan oleh para leluhur nelayan disini,” imbuhnya.

Agus mengatakan tiga bahan ini memiliki makna tertentu. Seperti kain putih melambangkan ketulusan masyarakat Jepara atas rasa syukur kepada Allah. Kain tersebut ditempatkan menjadi lapisan dasar perahu, yang bermakna bahwa niatan tulus didasarkan pada rasa syukur kepada Allah SWT.

“Ada juga 3 gedebog (red=batang pisang) raja itu diibaratkan rajanya setan, istilahnya makhluk gaib penghuni laut. lha terus bambu apus itu ibaratnya untuk “nyunduk” batang pisang raja agar “apes” (red=takluk). Intinya agar para penghuni laut bisa tunduk, saat masyarakat nelayan pergi kelaut dan tidak menggangu manusia saat mengais rejeki,” ungkap Agus.

Agus bercerita sebelum membuat miniatur kapal ini pun pembuat harus melakukan puasa selama tiga hari. Setelah jadi, miniatur ini pun dibawa ke rumah tokoh masyarakat setempat. Untuk ditempati sesaji dan diarak oleh nelayan ke TPI Ujungbatu Kecamatan Jepara.

“Biar tidak mengganggu nelayan pada saat melaut. Intinya bukan arti masyarakat Jepara menyekutukan tuhan itu tidak, tujuan intinya ikut syukur dan menyedahkannya pada laut,” sambung dia.

Serangkaian kegiatan pesta lomban bakal digelar mulai 28-29 April 2023. Antaranya Ziarah Makam Leluhur dan Pagelaran Wayang Kulit pada Jum’at 28 April, sedangkan pada Sabtu 29 April merupakan puncak acara yakni Larungan Kepala kerbau dan Festival Kupat Lepet.

Pemkab Jepara juga menghimbau kepada seluruh pengunjung pesta lomban yang turut serta saat prosesi larungan untuk memperhatikan kelaikan dan kapasitas penumpang. Pastikan dalam perahu tersedia pelampung, ban atau jerigen untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. (MIKJPR-01)

Reporter : And/Xpo
Editor : Haniev

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here