Google search engine

MIKJEPARA.com, JEPARA – Banyak berbagai eksperimen yang dilakukan dan berbuah manis, meskipun sumbernya hanya berasal dari ucapan orang-orang terdahulu. Salah satunya tentang khasiat tanaman-tanaman liar yang berada disekitar lingkungan kita.

Ada banyak tumbuhan liar yang bermanfaat untuk mengobati penyakit, termasuk diabetes yang dikenal sulit diobati. Tiga mahasiswa Unisnu Jepara berhasil menemukan sebuah tanaman liar yang bermanfaat meminimalisir penyakit diabetes.

Tim mahasiswa UNISNU saat mempraktekkan cara meracik ramuan dari tumbuhan liar di sekeliling kita, dari percobaan ini mereka mampu meraih medali emas pada ajang karya tulis ilmiah internasional WICE 2021. (Dok : Foto MIK Jepara/xpo)

Mereka adalah Muhammad Khusni Rohin, Umi Latifah, dan Diah Ismi Chofifah. Ketiganya saat ini duduk di bangku semester tiga Program Studi Manajemen. Produk hasil riset para mahasiswa itu dinamai Sultan-R. Khusni menjelaskan, bahan dasar jamu tersebut adalah tanaman Rambusa.

Buah itu banyak tumbuh liar di semak belukar. Orang-orang kampung di Jepara biasa menyebutnya sebagai pakan ular. Karena sebutan itulah, sampai saat ini belum ada orang yang mengambil manfaatnya. “Awalnya saya enggak sengaja melihat tanaman liar ini di sungai, di kebun-kebun.

Kemudian saya coba-coba merisetnya. Katanya, orang-orang di desa ada yang mengatakan tanaman itu dipercaya bermanfaat mengurangi gula darah,” kata Khusni, Senin (1/11/2021). Dalam prosesnya, tanaman rambusa disangrai hingga kering. Kemudian dicampur daun mint.

Baca Juga : 2 Tim Raup Emas, Mahasiswa UNISNU Kembali Raih Kompetisi Internasional

Setelah kering, ramuan itu ditumbuk hingga menjadi bubuk. Cara mengonsumsinya seperti jamu pada umumnya. Jamu bisa ditambah gula batu sedikit untuk mendapatkan rasa manis.

Secara umum, ramuan tersebut dapat meningkatkan zat besi, meringankan gula darah, mengobati diabetes, juga bisa mengatasi bakteri-bakteri jahat dalam tubuh.

Dari hasil riset itu, ketiga mahasiswa tersebut berhasil menyabet medali emas dalam kompetisi riset internasional bernama World Invention Competition and Exhibition 2021 di Malaysia secara virtual. Dalam kompetisi itu, mahasiswa Unisnu berhasil mengalahkan 360 tim dari 30 negara.

Menurut Khusni, alasan utama risetnya itu berhasil meraih medali karena inovasi tersebut belum pernah dilakukan oleh siapapun. “Karena produk ini belum pernah diproduksi di Indonesia atau di luar negeri,” ujar Khusni. (MIKJPR-01)

Reporter : And/xpo
Editor : Haniev

Tinggalkan Balasan